Home > Serba Serbi > Selalu Bayar Pajak, Kok Jalan Masih Bolong?

Selalu Bayar Pajak, Kok Jalan Masih Bolong?

Hari ini, Kamis 29 Maret 2012, bagi teman-teman mahasiswa dan sebagian Ormas-ormas akan menggelar unjuk rasa besar-besaran menolak rencana kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM). Kalau para pendemo itu akan menghadapi polisi agar tidak menghalangi mereka, bahkan kadang-kadang dilempar pakai batu,aduh jangan pakai kekerasan dong… maka aku akan mendatangi polisi untuk memberikan uang secalara rutin setiap tahunnya, alias membayar pajak untuk negara Indonesia tercinta, berharap si uang itu benar-benar dijadikan untuk kepentingan umum seperti pembangunan infrastruktur jalan, tapi sayangnya sering sekali aku mengeluh saat berkendara masih banyak jalan-jalan yang bolong, seoalah-olah jalan bolong itu di biarkan untuk jebakan. Salah seorang temanku bilang “untuk mengurangi jumlah penduduk”. Wah kalau gitu bahaya sekali kan, sudah kita yang bayar kita bisa jadi korban karena jalan bolong. Kalau itu sengaja dibuat untuk jebakan apa bedanya dengan pembunuh yang meletakkan BOM di jalanan he he.Doorrrr..(suara motor jatuh).
Mirisnya pembangunan infrastruktur seperti jalan sudah banyak dikeluhkan, di Pulau Jawa yang katanya pembangunannya sudah bagus juga masih banyak terdapat jebakan-jebakan maut. Apalagi diluar pulau jawa, lebih parah lagi. Padahal kalau dilihat dari jumlah kenderaan diindonesia sudah sangat banyak, seharusnya dengan jumlah yang banyak itu infrastruktur jalan juga harus dibangun dengan baik, agar perjalanan bisa lancar dan akan mengurangi pengguaan BBM, bayangkan kalau jalan yang tidak lancar, berapa bensin yang telah terbakar sia-sia hanya untuk menunggu antri?, jawabannya banyak. Yang menjadi pertanyaan masyarakat adalah, kemana uang yang kita bayar setiap tahun, dengan jumlah kenderaan terus bertambah pasti pendapatan dari pajak juga bertambah, tapi kemana semua uang itu? Kok jalan-jalan kita masih bolong dipenuhi genangan air dan jembatan reot. Masyarakatpun tahu jawabannya, dikorupsi. Jalan-jalan disebagian lokasi memang terus diperbaiki, namun entah bagaimana, jalan itu cepat sekali rusak kembali karena terkena hujan gerimis. Dari sini saja sudah ketahuan, kalau perbaikan jalan itu memang sudah direncanakan agar tidak awet. Keuntungan yang bisa didapatkan dari pemborongnya dapat menghemat biaya, karena komposisi untuk pembuat jalan sudah dikurangi. Kemudian agar kedepannya ada proyek yang sama dan dapat mengambil keuntungan yang serupa. Jika terus-terusan begitu maka dana yang seharusnya bisa untuk membangun ditempat lain digunakan untuk tempat yang sama. Daerah lain cuma bisa menonton dan bermimpi punya jalan mulus.

Inilah yang membuat aku malas pergi kekantor samsat pagi ini, kalau dipikir-pikir kebelakang, lihat jalan-jalan Peninggalan penjajah. Padahal dulu buatnya hanya menggunakan tenaga manusia, tapi jalan itu kokoh. Dari fakta tersebut dapat kita ambil kesimpulan bahwa para-para yang diatas tidak serius dalam menangani masalah, mereka hanya melakukannya demi uang. Tidak ada rasa Nasionalisme apalagi dengan Ikhlas agar indonesia bisa maju. Mereka hanya ingin memperkaya diri, bukan untuk kemajuan Indonesia tercinta.

Aku sampai di kantor samsat pukul 11.00, Aku langsung menuju Fotocopy untuk melengkapi berkas-berkas untuk perpanjangan STNK. Kemudian ku serahkan berkas-berkas ke petugas loket, syukurnya lagsung diproses. Namun ketika menunggu di ruang tunggu aku bertemu dengan seseorang, orang itu tampaknya kesal sekali. Aku duduk di dekatnya, dan mulai bertanya ragu-ragu. “lagi ngurus apa pak?”, “ini mas, mau ngurus pajak lima tahunan, tapi dari pagi sampai sekarang belum juga diproses” jawabnya agak kesal. Ini lagi yang membuat ku kesal dengan budaya kita, selalu meminta kewajiban tapi tidak memberikan hak. Aku sebagai masyarakat indonesia yang sadar akan pajak bersedia membayar pajak dan pergi kekantor Samsat untuk membayarnya, itulah kewajiban ku. Dan hak ku adalah mendapatkan pelayanan yang baik dari petugas yang pengurus dibidang pajak. Tapi sering kali kita temui di instansi-instansi kita sering tidak diberikan hak, padahal seharusnya mereka sadar, mereka di gaji untuk melayani masyarakat. Apalgi kalau sudah masalah administrasi, itu sangat membosankan, dari mulai administrasi kepala kampung sampai keatas kayanya susah semua. Karena kesadaran untuk memberi yang terbaik belum ada dihati petugas-petugas kita.

Seperti bapak ini yang akhirnya Aku kenal dia adalah dosen kampus ISI Yogyakarta, tapi aku lupa menanyakan namanya. Kebiasaan ku he he. dia mengurus Pajak mobil VW kodoknya. Kemudian dia cerita inilah pelayanan di indonesia. Bapak itu sudah mengantri dari pagi, dan di beri nomor urut, bapak VW ini mendapat urutan 46. tapi sewaktu dia dipanggil dia sedang dipanggil tukang parkir untuk memindah mobilnya karena menghalangi mobil yang mau keluar. Tapi setelah kembali nomor urut itu sudah sampai 50, bapak itupun menunjukkan nomornya kepada petugas pengecek nomor rangka dan nomor mesin, apalah itu istilahnya. Namun petugas itu malah menyalahkan si bapak “dari tadi dipanggil kemana pak?”. Bapak itu pun memberikan alasannya. Namun petugas itu sepertinya tidak terima, dan meminta bapak untuk menunggu sampai antrian selesai. Padahal kata sibapak VW itu, ada yang baru datang tapi langsung di layani. Dia sambil tertawa mengatakan itu “inilah budaya indonesia, ha ha” katanya. Akhirnya dia sudah malas sekali untuk mengurus sendiri dan membayar calo, harus menambah biaya lagi. Ditambah dengan rasa dongkol dihati. Manusia memang tidak luput dari salah, makanya kita dianjurkan untuk belajar dari kesalahan. Semua harus merenung sejenak untuk menyadari tugasnya, pemerintah sebagai apa, petugas pajak sebagai apa, masyarakat juga sebagai apa?. Dan yang paling penting sadar kalau Korupsi itu merugikan diri sendiri dan orang banyak.

Akhirnya aku dan bapak VW pun ngobrol ngalur ngidul, sambil menunggu STNK ku selesai, nama ku pun dipanggil dari suara TOA dari loket. Aku mengambilnya, dan menuju tempat parkir bersama bapak VW, kemudian berpisah melambaikan tangan.

Oleh : Kinoy’s

Categories: Serba Serbi
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: