Home > Serba Serbi > Ayahku (Bukan) Pembohong

Ayahku (Bukan) Pembohong

“Kapan terakhir kali kita memeluk ayah kita? Menatap wajahnya, lantas bilang kita sungguh sayang padanya? Kapan terakhir kali kita bercakap ringan, tertawa gelak, bercengkerama, lantas menyentuh lembut tangannya, bilang kita sungguh bangga padanya?

Inilah kisah tentang seorang anak yang dibesarkan dengan dongeng-dongeng kesederhanaan hidup. Kesederhanaan yang justru membuat ia membenci ayahnya sendiri. Inilah kisah tentang hakikat kebahagiaan sejati. Jika kalian tidak menemukan rumus itu di novel ini, tidak ada lagi cara terbaik untuk menjelaskannya.

Mulailah membaca novel ini dengan hati lapang, dan saat tiba di halaman terakhir, berlarilah secepat mungkin menemui ayah kita, sebelum semuanya terlambat, dan kita tidak pernah sempat mengatakannya.”

Itulah sinopsi yang dibuat di Cover buku yang berjudul Ayahku Bukan Pembohong, novel ini mengisahkan seorang anak yang dibesarkan dengan cerita-cerita untuk menjalani kehidupan dengan sederhana. cerita ayahnya yang membuat Dam semangat dan optimis dalam menjalani segala kondisi kehidupan, meskipun mereka hidup bersehaja. Ayahnya adalah seoramg Master Hukum lulusan luar Negeri, tentunya seharusnya memiliki kehidupan yang layak. tetapi tidak dalam kenyataan hidup mereka, sangat sederhana. Tapi Dam setelah berumur belasan tahun sangat membenci ayahnya, karena Dam menganggap ayahnya sebagai pembohong besar atas cerita-ceritanya itu.

Novel ini menurut penilaian pribadi saya, bahasa yang digunakan sangat sederhana, alur ceritanya maju mundur menceritakan kehidupan Dam dari masa kecil sampai berumah tangga sampai memiliki 2 orang anak. Ceritanya juga asik tidak membosankan, konflik yang dibuatpun sangat bagus, membuat penasaran untuk menyelesaikan sampai halaman akhir.

Novel ini memberikan contoh tentang hidup berbahagia dengan cara yang berbeda, aku suka kata-kata berikut “Hidup Harus berlanjut, tidak peduli seberapa menyakitkan atau seberapa membahagiakan, biarkan waktu menjadi obat. Kau akan menemukan petualangan hebat di luar sana” ., Halaman 242. Dinovel ini digambarkan bagaimana dengan kehidupan orang yang Juhud (orang yang meninggalkan kehidupan keduniaan), seperti yang di ceritakan novel ini dibagian akhir tentang arti kebahagiaan.

“Itulah hakikat sejati kbahagiaan, Dam. Ketika kau bisa membuat hati bagai danau dalam dengan sumber mata air sebening air mata. Memperolehnya tidak mudah, kau harus terbiasa dengan kehidupan bersehaja, sederhana, dan apa adanya. Kau harus bekerja keras, sungguh-sungguh, dan atas pilihan sendiri memaksa hati kau berlatih”. Ayahku (bukan) Pembohong, halaman 292.

Sahabat, demikianlah sedikit ulasan tentang buku Ayahku (Bukan) Pembohong, selamat membaca 

Bagi yang belum punya silahkan beli he he

Judul : Ayahku (Bukan) Pembohong

Pengarang : Tere-Liye

Penerbit : Pt. Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit : 2011

Tebal Buku : 299

Harga Buku : Rp.45.000,-

Categories: Serba Serbi
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: